"Cawan yang Pecah dan Bintang yang Terlarang"
Isi Karya
Di ladang hatiku, badai telah berulang kali merenggut benih kesetiaan,
Tangan yang kulekatkan pada janji, justru menabur duri di balik pelukan.
Aku telah meminum cawan pengkhianatan hingga dasarnya yang paling pahit,
Melihat cinta menjadi debu yang beterbangan di antara langit yang sempit.
Lalu engkau datang, bagai embun yang turun di atas tanah yang retak,
Suaramu adalah nyanyian rebab yang meredakan badai yang membentak.
Di matamu, kutemukan dermaga tempat jiwaku yang letih bersandar,
Sebuah rumah dari cahaya, saat duniaku gelap dan berpijar hambar.
Namun wahai ruh yang suci, engkau adalah taman yang dipagari takdir,
Namamu terukir di mihrab lain, tempat doa pria lain mengalir.
Engkau adalah penawar dahagaku, namun sumurmu bukan milikku untuk ditimba,
Kita adalah dua sayap yang bersentuhan, namun terbang di langit yang berbeda.
Cinta bukanlah memiliki, melainkan mengakui cahaya meski di kejauhan,
Engkau adalah luka yang menyembuhkan, sekaligus kesunyian yang penuh keindahan.
Diskusi Pembaca