Remang Sunyi Sang Beludru Bayangan di Jendela Waktu Revolusi Estetika: Peran Vital Chairil Anwar dalam Transformasi Puisi Modern Indonesia Nyala Sunyi Tiga Takdir Dialektika di Tepi Cangkir Menelusuri Jejak Kata: Mengenal Tokoh-Tokoh Besar dalam Sastra Indonesia Si Binatang Jalang: Kisah Epik Chairil Anwar dalam Merevolusi Sastra Indonesia Irama Pengusir Dosa Kidung Pelarian di Tengah Cerca "Cawan yang Pecah dan Bintang yang Terlarang" Kelaparan Sang Pujangga Bisu Menelusuri Jejak Kata: Mengenal Tokoh-Tokoh Besar dalam Sastra Indonesia Sia-sia yang Kupeluk Simfoni Dalam Sunyi Tiga Pilar Malam Sunyi Ziarah Dalam Kekosongan Tudingan di Atas Riak "Cawan yang Pecah dan Bintang yang Terlarang" Pelabuhan Jiwa Khidmat di Ruang Tak Bernama Simfoni Padang Sunyi Tempaan Luka di Ambang Fajar Nakhoda di Lautan Angkuh Temu di Lipatan Takdir Antara Pena dan Wayang: Membedah Sosok Sujiwo Tejo sebagai Sastrawan atau Budayawan?

"Cawan yang Pecah dan Bintang yang Terlarang"

Umum 191

Isi Karya

Di ladang hatiku, badai telah berulang kali merenggut benih kesetiaan,

Tangan yang kulekatkan pada janji, justru menabur duri di balik pelukan.

Aku telah meminum cawan pengkhianatan hingga dasarnya yang paling pahit,

Melihat cinta menjadi debu yang beterbangan di antara langit yang sempit.

Lalu engkau datang, bagai embun yang turun di atas tanah yang retak,

Suaramu adalah nyanyian rebab yang meredakan badai yang membentak.

Di matamu, kutemukan dermaga tempat jiwaku yang letih bersandar,

Sebuah rumah dari cahaya, saat duniaku gelap dan berpijar hambar.

Namun wahai ruh yang suci, engkau adalah taman yang dipagari takdir,

Namamu terukir di mihrab lain, tempat doa pria lain mengalir.

Engkau adalah penawar dahagaku, namun sumurmu bukan milikku untuk ditimba,

Kita adalah dua sayap yang bersentuhan, namun terbang di langit yang berbeda.

Cinta bukanlah memiliki, melainkan mengakui cahaya meski di kejauhan,

Engkau adalah luka yang menyembuhkan, sekaligus kesunyian yang penuh keindahan.

Diskusi Pembaca

// Comment Logic loadComments(142); async function loadAiReview(id, type) { const container = document.getElementById("aiReviewContainer-" + id); container.innerHTML = "
Menganalisis konten...
"; try { const res = await fetch("ai_comment.php?id=" + id + "&type=" + type); const data = await res.json(); if (data.status === "success") { container.innerHTML = data.comment; } else { container.innerHTML = "
Gagal memuat analisis.
"; } } catch (e) { container.innerHTML = "
Error koneksi.
"; } } async function postManualComment(id, type) { const name = document.getElementById("userCommentName").value.trim(); const content = document.getElementById("userCommentText").value.trim(); if(!name || !content) { alert("Mohon isi nama dan komentar."); return; } // Simple POST (you would implement a real endpoint for this) appendCommentHTML({name: name, content: content, time_display: "Baru saja"}); document.getElementById("userCommentText").value = ""; alert("Komentar terkirim!"); }
Next: 30s
Chat Pemilik