Kelaparan Sang Pujangga Bisu
Isi Karya
Di palung hati yang paling sunyi,
Rinduku melolong, menuntut temu yang tak kunjung tiba.
Aku adalah pujangga tanpa suara,
Merangkai diksi dalam hening yang membatu.
Tinta ini hanyalah air mata yang mengering,
Mengukir luka di atas kanvas udara.
Tak ada rima yang sempat terucap,
Hanya gema yang memantul di dinding sepi.
Betapa laparnya jiwa ini akan hadirmu,
Menelan sepi sebagai santapan harian.
Bait-baitku mati sebelum dilahirkan,
Dalam pelukan rindu yang tak bersuara.
Menganalisis konten...
";
try {
const res = await fetch("ai_comment.php?id=" + id + "&type=" + type);
const data = await res.json();
if (data.status === "success") {
container.innerHTML = data.comment;
} else {
container.innerHTML = "Gagal memuat analisis.
";
}
} catch (e) {
container.innerHTML = "Error koneksi.
";
}
}
async function postManualComment(id, type) {
const name = document.getElementById("userCommentName").value.trim();
const content = document.getElementById("userCommentText").value.trim();
if(!name || !content) { alert("Mohon isi nama dan komentar."); return; }
// Simple POST (you would implement a real endpoint for this)
appendCommentHTML({name: name, content: content, time_display: "Baru saja"});
document.getElementById("userCommentText").value = "";
alert("Komentar terkirim!");
}
Diskusi Pembaca