Kidung Pelarian di Tengah Cerca
Isi Karya
Hari ini, udara tebal, bukan embun yang membasahi
Tapi beban tak kasat mata, di setiap denyut nadi.
Angin tak sekadar bertiup, ia datang menguji
Membawa cambuk dari pasir, merobek janji .
Kau berlari, bukan menuju fajar yang ramah
Tapi menjauh dari jeritan, dari fitnah yang membara.
Setiap jejak adalah upaya, napas yang terengah
Mencoba menembus tirai, menuju ruang tanpa bahaya.
Di belakangmu, suara tajam, 'Dia memaki'
Kata-kata itu bukan desau, tapi batu yang dilempar.
Menudingmu lumpuh, menertawakan mimpi yang mati
Membuat beban di punggung, serasa memanggul sebaris pagar.
Dan alam pun ikut menimpali, menabuh genderang murka
Langit mendung bukan teduh, tapi wajah yang berkerut.
'Alam mencaci', melalui guruh dan kilat yang menyangka
Bahwa kau tak pantas, bahwa langkahmu tak berakar kuat.
Di antara badai caci dan terpaan angin dusta
Pelarianmu adalah sebuah deklarasi bisu.
Bahwa raga boleh lelah, tapi jiwa takkan sirna
Kau berlari, menantang ujian, mencari makna di balik pilu.
Diskusi Pembaca