Ziarah Dalam Kekosongan
Isi Karya
Di rimba sunyi, jiwa merangkai peta,
Langkah abstrak, bukan jejak di bumi nyata.
Setiap ayun, getaran tanpa raga,
Menari hening di batas rasa dan lara.
Jalan berliku, serat nasib yang terajut kelam,
Melalui kabut, menembus lorong yang sunyi dan dalam.
Tiada penunjuk arah, bintang pun tersembunyi pekat,
Setiap tikungan adalah misteri yang membelenggu erat.
Namun di tengah badai, kaki mendadak terpaku,
Membumi keras, terikat benang ragu.
Aku ingin berlari, mengejar bayangan waktu,
Tapi lumpur batin menahan, menjerat setiap sendi syarafku.
Lalu halusinasi berderu, memecah sepi ruang,
Memori usang dan janji yang telah hilang.
Ribuan wajah hantu menari di pelupuk mata,
Menggempur benteng sadar, merenggut makna setiap kata.
Inilah ziarah tanpa tujuan yang pasti,
Di mana gerak dan henti adalah ilusi sejati.
Jalan ini adalah aku, terpaku dalam badai bising,
Menanti fajar yang mungkin tak pernah datang.
Diskusi Pembaca