Nyala Sunyi Tiga Takdir
Isi Karya
Sayap sutra kini terlipat patah,
Bidadari setia menanggung lelah.
Dada terluka, mengalir getah perih,
Mengapa janji harus berakhir sepih?
Ia memandang ruang dengan mata bening,
Mencari bayang yang tiada mungkin mampir.
Kesetiaannya adalah mahkota duri,
Yang terus menusuk di relung nurani.
Di pojok lantai, ada kisah yang lain,
Kucing nakal yang bermain api angin.
Melompat angkuh mengejar bayangan semu,
Terjerat takdir, celaka tanpa ragu.
Keheningan tiba, hanya desah napas,
Sang pembuat onar kini terlepas.
Tinggal sisa jerit yang tak terdengar lagi,
Menambah beban lara yang tak tertandingi.
Lampu tua berdiri di atas meja,
Menjadi saksi bisu yang tak berdaya.
Sumbu meredup, cahayanya pun pudar,
Mengikis harap yang hampir mekar.
Tiada ketukan, tiada suara tawa,
Hanya penantian yang makin membawa lara.
Di bawah redup, tak ada sua yang datang,
Hanya kegelapan abadi yang membentang.
Bidadari, kucing, dan nyala yang perlahan mati,
Menyatu dalam elegi di malam sunyi.
Diskusi Pembaca