Aku adalah lentera di ruang sunyi jiwa, Bukanlah api yang membakar, namun cahaya sapa. Di dalam cangkang raga, tersembunyi sebuah rasa, Kehangatan abadi, yang tak lekang dimakan masa.
Setiap senyum yang kuulas, adalah tungku kecil, Menghalau embun beku, dari hati yang terpencil. Bukan untuk memamer, nyala yang tak terganti, Namun tempat berlabuh, bagi jiwa yang mencari arti.
Diriku adalah secangkir teh di pagi buta, Menyambut dingin yang menyerang, dengan damai tak terkira. Bukanlah badai yang menderu, membakar segala hal, Hanya bara yang setia, menunggu tuk disingkap tabir tebal.
Kehangatan ini bukan dari matahari yang terbit, Ia bersemayam di sumbu, yang tak pernah sedikitpun sakit. Menenangkan cemas yang datang, meneduhkan setiap pandang, Diriku yang hangat, adalah rumah tempat aku bernaung.
Diskusi Pembaca