Nona Kapur Putih dan Derita Wajib
Isi Karya
Di ambang kelas, dia berdiri tegak,
Bidadari ilmu dengan senyum yang tipis.
Rambut terikat rapi, aura yang tak retak,
Menyambut pagi di antara bangku-bangku miris.
Jemari lentiknya menari di papan hitam,
Melukis aksara, menyusun peta masa depan.
Bukanlah emas atau permata yang ia genggam,
Hanya kapur putih, simbol pengorbanan.
Setiap lekuk wajah menyimpan cerita sunyi,
Tentang malam yang panjang dan beban tak terperi.
Gaji bulanan yang tak pernah mencukupi,
Namun tak ada keluh di hati yang murni.
Derita itu adalah janji yang ia ukir,
Kesanggupan hati demi cerahnya tunas bangsa.
Saat dunia menuntut yang lebih ia taksir,
Ia memilih setia pada janji tanpa tanda jasa.
Cantiknya tak hanya rupa yang terpancar cemerlang,
Namun kekuatan jiwa yang menahan badai.
Dia tahu, sakit ini adalah jalan yang terang,
Pilar utama agar mimpi murid tak usai.
Pengajar cantik, pahlawan sejati yang senyap,
Mencipta cahaya dari debu dan air mata.
Memikul derita wajib agar generasi siap,
Menjadi lentera di gelapnya semesta.
Diskusi Pembaca