Sia-sia yang Kupeluk Antara Pena dan Wayang: Membedah Sosok Sujiwo Tejo sebagai Sastrawan atau Budayawan? Menelusuri Jejak Kata: Mengenal Tokoh-Tokoh Besar dalam Sastra Indonesia Nyala Sunyi Tiga Takdir Dialektika di Tepi Cangkir Temu di Lipatan Takdir Khidmat di Ruang Tak Bernama Tiga Pilar Malam Sunyi Pelabuhan Jiwa Tempaan Luka di Ambang Fajar Remang Sunyi Sang Beludru Titik Penyerahan Waktu Kidung Pelarian di Tengah Cerca Si Binatang Jalang: Kisah Epik Chairil Anwar dalam Merevolusi Sastra Indonesia Irama Pengusir Dosa Kelaparan Sang Pujangga Bisu Simfoni Dalam Sunyi Revolusi Estetika: Peran Vital Chairil Anwar dalam Transformasi Puisi Modern Indonesia "Cawan yang Pecah dan Bintang yang Terlarang" Simfoni Padang Sunyi Tudingan di Atas Riak Menelusuri Jejak Kata: Mengenal Tokoh-Tokoh Besar dalam Sastra Indonesia Ziarah Dalam Kekosongan Permata di Kain Beludru Nakhoda di Lautan Angkuh

Artikel Terbaru

Menelusuri Jejak Kata: Mengenal Tokoh-Tokoh Besar dalam Sastra Indonesia

25 Feb 2026 60
Menelusuri Jejak Kata: Mengenal Tokoh-Tokoh Besar dalam Sastra Indonesia
Sastra Indonesia bukan sekadar kumpulan kata-kata indah yang tersusun rapi di atas kertas. Ia adalah cermin dari pergolakan sejarah, perjuangan kemerdekaan, hingga pencarian jati diri sebuah bangsa yang besar. Sepanjang perjalanan sejarahnya, Indonesia telah melahirkan deretan pujangga dan sastrawan yang karya-karyanya tidak hanya menggugah perasaan, tetapi juga mampu menggetarkan dunia internasional. Si Binatang Jalang: Chairil Anwar Berbicara tentang sastra Indonesia tentu tidak lengkap tanpa menyebut nama Chairil Anwar. Tokoh sentral dari Angkatan '45 ini membawa revolusi dalam gaya bahasa puisi Indonesia. Berbeda dengan angkatan sebelumnya yang cenderung terikat rima dan bersifat romantis-melankolis, Chairil hadir dengan bahasa yang lugas, tajam, dan penuh pemberontakan. Karyanya...

Baca Selengkapnya →

Puisi Pilihan

"Cawan yang Pecah dan Bintang yang Terlarang"

13 Apr 2026 2

Di ladang hatiku, badai telah berulang kali merenggut benih kesetiaan,

Tangan yang kulekatkan pada janji, justru menabur duri di balik pelukan.

Aku telah meminum cawan pengkhianatan hingga dasarnya yang paling pahit,

Melihat cinta menjadi debu yang beterbangan di antara langit yang sempit.

Lalu engkau datang, bagai embun yang turun di atas tanah yang retak,

Suaramu adalah nyanyian rebab yang meredakan badai yang membentak.

Di matamu, kutemukan dermaga tempat jiwaku yang letih bersandar,

Sebuah rumah dari cahaya, saat duniaku gelap dan berpijar hambar.

Namun wahai ruh yang suci, engkau adalah taman yang dipagari takdir,

Namamu terukir di mihrab lain, tempat doa pria lain mengalir.

Engkau adalah penawar dahagaku, namun sumurmu bukan milikku untuk ditimba,

Kita adalah dua sayap yang bersentuhan, namun terbang di langit yang berbeda.

Cinta bukanlah memiliki, melainkan mengakui cahaya meski di kejauhan,

Engkau adalah luka yang menyembuhkan, sekaligus kesunyian yang penuh keindahan.

Tanya Penulis ×
Halo! Ada yang bisa saya bantu tentang puisi atau artikel di sini?