Khidmat di Ruang Tak Bernama Si Binatang Jalang: Kisah Epik Chairil Anwar dalam Merevolusi Sastra Indonesia Menelusuri Jejak Kata: Mengenal Tokoh-Tokoh Besar dalam Sastra Indonesia Simfoni Padang Sunyi Tempaan Luka di Ambang Fajar Nyala Sunyi Tiga Takdir Tudingan di Atas Riak Irama Pengusir Dosa Sisa Sunyi di Sudut Kantor Antara Pena dan Wayang: Membedah Sosok Sujiwo Tejo sebagai Sastrawan atau Budayawan? Bayangan di Jendela Waktu Ziarah Dalam Kekosongan Revolusi Estetika: Peran Vital Chairil Anwar dalam Transformasi Puisi Modern Indonesia "Cawan yang Pecah dan Bintang yang Terlarang" Nakhoda di Lautan Angkuh Pelabuhan Jiwa Temu di Lipatan Takdir Menelusuri Jejak Kata: Mengenal Tokoh-Tokoh Besar dalam Sastra Indonesia Tiga Pilar Malam Sunyi Kidung Pelarian di Tengah Cerca Remang Sunyi Sang Beludru Sia-sia yang Kupeluk Dialektika di Tepi Cangkir Simfoni Dalam Sunyi "Cawan yang Pecah dan Bintang yang Terlarang"

Artikel Terbaru

Menelusuri Jejak Kata: Mengenal Tokoh-Tokoh Besar dalam Sastra Indonesia

25 Feb 2026 91
Menelusuri Jejak Kata: Mengenal Tokoh-Tokoh Besar dalam Sastra Indonesia
Sastra Indonesia bukan sekadar kumpulan kata-kata indah yang tersusun rapi di atas kertas. Ia adalah cermin dari pergolakan sejarah, perjuangan kemerdekaan, hingga pencarian jati diri sebuah bangsa yang besar. Sepanjang perjalanan sejarahnya, Indonesia telah melahirkan deretan pujangga dan sastrawan yang karya-karyanya tidak hanya menggugah perasaan, tetapi juga mampu menggetarkan dunia internasional. Si Binatang Jalang: Chairil Anwar Berbicara tentang sastra Indonesia tentu tidak lengkap tanpa menyebut nama Chairil Anwar. Tokoh sentral dari Angkatan '45 ini membawa revolusi dalam gaya bahasa puisi Indonesia. Berbeda dengan angkatan sebelumnya yang cenderung terikat rima dan bersifat romantis-melankolis, Chairil hadir dengan bahasa yang lugas, tajam, dan penuh pemberontakan. Karyanya...

Baca Selengkapnya →

Puisi Pilihan

Sisa Sunyi di Sudut Kantor

15 Jun 2026 1
Sisa Sunyi di Sudut Kantor

Meja ini masih sama, dingin dan berdebu,
Namun namaku perlahan menguap ditiup angin lalu.
Dahulu aku adalah roda yang berputar kencang,
Kini bagai kertas usang di sudut ruang yang remang.

Langkah kaki mereka melewati kubikelku tanpa suara,
Diskusi-diskusi hangat kini menjadi rahasia.
Aku ada, namun kasat mata dalam hiruk-pikuk target,
Dibuang perlahan, digantikan mesin yang lebih awet.

Keringat kemarin tak lagi punya nilai guna,
Hanya menjadi sejarah yang lekas sirna.
Di sini aku berdiri, menatap layar yang sepi,
Menanti waktu dibuang sepenuhnya dari mimpi.

Tanya Penulis ×
Halo! Ada yang bisa saya bantu tentang puisi atau artikel di sini?