The Waste Land
Oleh: T.S. Eliot
April adalah bulan yang paling berdusta,
Mengingatkan kita pada kehidupan yang telah mati,
Dengan hujan yang turun dari langit abu-abu,
Membangkitkan kembali bunga yang telah layu.
Kita yang telah kehilangan jalan,
Di tengah kota yang telah kehilangan jiwa,
Mencari jawaban pada tanda-tanda yang tidak jelas,
Dan menemukan hanya kehampaan dan kesepian.
Di dalam kota yang penuh dengan orang-orang,
Kita merasa sendirian dan terisolasi,
Kita mencari koneksi dan makna,
Tapi hanya menemukan kehampaan dan kekosongan.
Saya telah mengunjungi kota-kota yang telah hancur,
Dan melihat kehancuran yang telah terjadi,
Saya telah melihat orang-orang yang telah kehilangan harapan,
Dan mendengar tangisan mereka yang telah putus asa.
Tapi di tengah kehancuran dan kehampaan,
Saya masih menemukan harapan dan keindahan,
Dalam cinta dan kepedulian yang masih ada,
Dan dalam keinginan untuk memulai kembali.
Saya telah mendengar suara yang memanggil,
Suara yang memanggil saya untuk kembali,
Kembali ke alam dan kehidupan,
Dan meninggalkan kehampaan dan kesepian di belakang.
Tapi saya masih terjebak di dalam kota,
Di dalam kehampaan dan kesepian yang tidak berakhir,
Saya masih mencari jawaban dan makna,
Tapi hanya menemukan kehampaan dan kekosongan.
Saya telah mencoba untuk melarikan diri,
Dari kehampaan dan kesepian yang menghantui,
Tapi saya tidak bisa melarikan diri,
Karena kehampaan dan kesepian itu ada di dalam diri saya.
Saya telah mencoba untuk mencari jawaban,
Dalam buku-buku dan dalam puisi,
Tapi saya tidak bisa menemukan jawaban,
Karena jawaban itu ada di dalam diri saya.
Saya telah mencoba untuk mencari keindahan,
Dalam cinta dan dalam kepedulian,
Tapi saya tidak bisa menemukan keindahan,
Karena keindahan itu ada di dalam diri saya.
Saya telah mencoba untuk mencari harapan,
Dalam keinginan untuk memulai kembali,
Tapi saya tidak bisa menemukan harapan,
Karena harapan itu ada di dalam diri saya.
Saya telah mencoba untuk mencari makna,
Dalam kehampaan dan kesepian yang tidak berakhir,
Tapi saya tidak bisa menemukan makna,
Karena makna itu ada di dalam diri saya.
Shantih shantih shantih.
Bagian II: A Game of Chess
Kita duduk di ruang tamu yang gelap,
Dengan api yang telah mati,
Kita berbicara tentang cinta dan kehidupan,
Tapi kita tidak bisa menemukan makna.
Kita bermain catur dengan kehidupan,
Tapi kita tidak bisa menang,
Kita bergerak dengan lambat dan hati-hati,
Tapi kita tidak bisa menghindari kehancuran.
Kita mencoba untuk mengingat masa lalu,
Tapi kita tidak bisa mengingat,
Kita mencoba untuk melihat masa depan,
Tapi kita tidak bisa melihat.
Kita terjebak di dalam masa kini,
Dengan kehampaan dan kesepian yang tidak berakhir,
Kita mencoba untuk mencari jawaban,
Tapi kita tidak bisa menemukan jawaban.
Shantih shantih shantih.
Bagian III: The Fire Sermon
Kita berjalan di sepanjang sungai,
Dengan air yang telah tercemar,
Kita melihat kehancuran yang telah terjadi,
Dan mendengar tangisan mereka yang telah putus asa.
Kita mencoba untuk mencari keindahan,
Dalam cinta dan dalam kepedulian,
Tapi kita tidak bisa menemukan keindahan,
Karena keindahan itu ada di dalam diri kita.
Kita terjebak di dalam kehampaan dan kesepian,
Dengan keinginan untuk memulai kembali,
Tapi kita tidak bisa memulai kembali,
Karena kita telah kehilangan jalan.
Shantih shantih shantih.
Bagian IV: Death by Water
Kita terapung di atas air,
Dengan badan yang telah mati,
Kita melihat kehancuran yang telah terjadi,
Dan mendengar tangisan mereka yang telah putus asa.
Kita mencoba untuk mencari jawaban,
Dalam kehampaan dan kesepian yang tidak berakhir,
Tapi kita tidak bisa menemukan jawaban,
Karena jawaban itu ada di dalam diri kita.
Shantih shantih shantih.
Bagian V: What the Thunder Said
Kita berjalan di dalam hutan,
Dengan pohon-pohon yang telah layu,
Kita mencoba untuk mencari keindahan,
Dalam cinta dan dalam kepedulian.
Kita terdengar suara yang memanggil,
Suara yang memanggil kita untuk kembali,
Kembali ke alam dan kehidupan,
Dan meninggalkan kehampaan dan kesepian di belakang.
Shantih shantih shantih.